Ibumi, Kebersahajaan Sebuah Pesan


Kabar Pemalang - Ketika sepenggal kepedulian mendapatkan hak penyaluran melalui sebuah proses kreatif maka sebuah media akan memiliki makna tak terbantahkan. Sebab, kepedulian yang dimaksud akan menjadi satu muatan yang akan mendapatkan arti tersendiri bagi khalayak.

Nonton Bareng Film Ibumi
Barangkali saja film merupakan ‘mitra’ yang adaptif bagi seorang pemilik kepedulian. Mengingat media satu ini memiliki nilai tersendiri yang dimungkinkan mampu mengakomodir kepedulian atau apapun yang tengah mengecamuk di hati seorang sineas.

Kepedulian yang mengobsesi memang akhirnya menjadi daya dorong bahkan invisible hand tatkala seorang sineas muda asal Pemalang, Abdi Widyatama alias Tommy, mencoba mengkonkretkan mimpinya melalui sebuah kreasi film indi berdurasi sekitar 30 menit, Ibumi.

Ibumi berkisah ihwal keterbatasan. Tema sosial nampaknya menjadi pilihan sineas kelahiran 24 Agustus 1990 yang menuntut ilmu di Broadcasting Film Akindo dan memperdalam photography di Mardawa Mandala Yogyakarta itu.

Namun lazimnya pendatang baru, Tommy nampak masih belum mampu menguliti keraguannya ketika menerjemahkan ide serta gagasannya pada tataran akting para pemain. Ini dapat dilihat jika mencermati adegan demi adegan yang dibawakan pembawa peran. Tommy masih keberatan melepas ketidakpastian dalam belasan adegan yang sebenarnya menjadi sentral dari pesan yang ingin disampaikan kepada penonton atau publik.

Sebagai misal pemeran utama yang bersosok pemuda desa bernama Jagat. Mestinya aktor ini mampu menyajikan akting yang kemedol, bernilai jual. Tidak biasa-biasa saja seperti bukan sedang berakting didepan kamera. Akting tatkala dia membentak sang adik, Raya, yang masih berstatus pelajar SD kelas 5, sebenarnya bisa menjadi titik tolak (take off) bagi akting bagus adegan adegan berikutnya. Namun sayang, aktor yang nampaknya juga pendatang baru ini belum mampu mengendalikan perasaan dan gejolak hatinya. Sehingga adegan yang semestinya bisa ciamik hanya berlangsung datar bahkan tanpa nuansa.

Selain keberadaan Jagat dan adiknya Raya, film ini juga melibatkan seorang perempuan dengan peran sebagai ibu dari dua anak lelakinya itu dan peran seorang lelaki penagih hutang yang hanya ditampilkan sekilas. Nah, adegan dimana Jagat tidak berkutik ketika berhadapan dengan si penagih hutang sebenarnya bisa menolong rentetan adegan yang sedikit deviatif dalam film garapan kawula muda kreatif berlabel Frame of Pemalang (FoP). Nampaknya Tommy sebagai sutradara belum sempat memperhitungkan hal ini jauh hari sebelum pengambilan gambar dimulai.

Potret kemiskinan merupakan ‘bahan baku’ pembuatan cerita film yang paling jamak serta mudah didapatkan di sekitar kita. Ibumi mencoba menggambarkannya sebagai sebuah pesan moral sosial. Bahwa keterbatasan sosial ekonomi masyarakat bukan momok yang bersifat pathologis. Namun bisa dijadikan sebuah hasil karya dalam bingkai pembelajaran yang bersahaja.

Usai pemutaran Ibumi di Kafeku, Sirandu Mall, Minggu sore (26 Nopember), Tommy dan tim FoP berbincang familiar dengan pengunjungnya. Sineas muda berkumis itu sempat ‘buka kartu’ ihwal muasal film garapannya. Ternyata kedekatan seorang anak dengan sang ibu telah menginspirasi dirinya hingga akhirnya menggagas dan mewujudkannya dalam sebuah karya sinea.

Tak berlebihan memang. Tommy dan ribuan kreator seni lainnya diatas bumi beradab ini barangkal pernah mengalami. Kasih sayang seorang ibu terhadap anak merupakan kasih sayang tulus tiada banding. Ketika menghadapi kemiskinan yang meniksa Jagat bertekat merubah nasib dengan merantau ke kota. Namun tak serta merta restu ibu dia dapatkan. Sehingga Jagat terpaksa kembali ke kampungnya ketika diberitahu ibunya menderita sakit.

Pungkasan cerita film ini memang bisa ditebak. Sang ibu menginginkan agar anak lelakinya tetap tinggal; bersamanya. Tinggal di desa tempatnya lahir dan dibesarkan. Hidup apa adanya bersama tetumbuhan dan huitan.

Ibumi telah menyampaikan sebuah pesan. Oleh sang sutradara Ibumi tidak dibebani pesan lain selain kepedulian dan keprihatinan. Dan yang pasti, selain sudah cukup filmis, Ibumi telah menjadi bukti bahwa anak muda asal Pemalang ternyata mampu mewujudkan mimpinya. (Ruslan Nolowijoyo).

0 comments

Post a Comment